Kisah Teko dan Kebaikan Hati di Jantung Glodok

Published: 20 Juli 2017 (student.cnnindonesia.com)

Jakarta, CNN Indonesia — Di jantung kawasan Glodok, Jakarta, dulu pernah ada seorang China yang baik hati bernama Kapiten Gan Djie. Kebaikan hati sang Kapiten dan istrinya menjadi cerita turun temurun di kawasan itu.

Dulu sang Kapiten China ketiga ini dan keluarganya selalu menaruh delapan teko berisi air minum dan teh gratis bagi pedagang atau siapa saja yang merasa kelelahan dan ingin beristirahat.

Keberadaan teko inilah menjadi cikal bakal lahirnya area Patekoan di Glodok, yang kini menjadi bagian dari jalan Perniagaan.

Sosok Lin Che Wei mencoba menghidupkan kembali semangat kebaikan hati ini di bangunan Apotheek Chung Hwa yang berlokasi di Jalan Pintu Besar Selatan, di pintu masuk Jalan Pancoran, Glodok.

Bangunan Apotheek Chung Hwa ini sendiri persisnya beralamat di Jalan Pancoran Nomor 6. Kamu bisa menemukan sebuah meja yang di atasnya terdapat delapan teko klasik berisi air minum yang bisa kamu minum secara gratis.

Di sana tertulis “Tradisi “Patekoan” (8 Teko). Silahkan Minum! Teh untuk kebersamaan. Teh untuk masyarakat.”

Apotheek Chung Hwa sendiri sekarang sudah berubah fungsi menjadi rumah teh bernama Pantjoran Tea House.

Berdasarkan catatan yang ada, bangunan ini adalah bangunan pertama di pintu masuk Kota Tua Jakarta, yang pernah dinominasikan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menjadi Situs Warisan Dunia ke UNESCO.

Meski tak berhasil masuk daftar Situs Warisan Dunia, bangunan yang berdiri pada 1928 ini adalah saksi penting sejarah area Glodok dan Jakarta.

Bagi Batavia pada zaman dulu, Glodok adalah area yang penting, terutama dalam proses perubahan Batavia menjadi Jakarta. Pancoran Glodok adalah gerbang utama memasuki Batavia dari selatan.

Nama Glodok sendiri berasal dari bunyi air di pancuran kanal di sana, yang mengeluarkan bunyi “Grojok..grojok” dan oleh lidah orang China kemudian disebut Glodok. Pancuran itu sendiri menginspirasi nama kawasan Jalan Pancoran.

Mengenal Kapiten Baik Hati

Menurut catatan, Kapiten Gan Djie diangkat sebagai Kapiten der Chineezen pada 10 April 1663 dan menjabat sampai 1675. Dia berasal dari Ciangciu, China, yang merantau ke Gresik untuk berdagang hasil bumi.

Alkisah, saat beristirahat di sebuah, seorang perempuan Bali menolongnya dari orang jahat. Wanita itu pun diperistrinya dan kemudian diboyongnya ke Batavia.

Di Batavia dia berkenalan dengan Kapiten de Chineezen Phoa Beng Gam yang sudah lanjut usia. Atas usul sang Kapiten, Gan Djie kemudian diangkat sebagai kapitan oleh Gubernur Jenderal Batavia, Joan Maetsuycker, yang juga pernah merasakan kebaikan hati Gan Djie. (ded/ded)

 

Foto: Dok. Istimewa/Oyen Ongkodharma

Sumber Artikel: https://student.cnnindonesia.com/edukasi/20170720125439-445-229135/kisah-teko-dan-kebaikan-hati-di-jantung-glodok/