Lebaran di Jakarta, Coba Nongkrong di 5 Tempat Jadoel Ini

Jakarta – Traveler yang tinggal di Ibukota mungkin masih bingung ingin menghabiskan waktu liburan ke mana. Coba saja nongkrong di 5 tempat jadoel ini.

Kalau malas menjelajah, santai di kedai kopi atau restoran jadoel bisa jadi pilihan. Terlebih, Jakarta biasanya jauh lebih lengang saat musim mudik libur Lebaran.

Ternyata banyak lho tempat nongkrong asyik nan bersejarah yang bisa kamu kunjungi di sekitaran Jakarta. Dihimpun detikTravel, Selasa (12/6/2018), ini 5 tempat jadoel rekomendasinya:

1. Pantjoran Tea House

(Shinta/detikTravel)
(Shinta/detikTravel)

Jalan ke daerah Glodok, Jakarta Barat, ada sebuah kafe yang traveler bisa kunjungi. Namanya Pantjoran Tea House.

Sesuai namanya, kafe ini menyajikan teh otentik khas Tionghoa. Suasana kafenya juga senada dengan menu yang disajikan. Bukan hanya aneka jenis teh, tetapi ada juga makanan lain seperti Dim Sum, Mie, dan aneka hidangan khas Tionghoa lainnya.

2. Cafe Batavia

(A. Afandi/d'Traveler)
(A. Afandi/d’Traveler)

Traveler yang pernah ke kawasan Kota Tua, mungkin tidak asing dengan kafe yang satu ini. Ya, apalagi kalau bukan Cafe Batavia yang legendaris.

Bangunan Cafe Batavia memang sudah terkenal bagi pengunjung Kota Tua. Tempatnya juga memiliki kesan historis yang kuat, dengan sajian menu yang sudah ada sejak zaman dahulu.

Traveler bisa menikmati segelas kopi, atau aneka makanan khas Nusantara dan internasional. Di beberapa waktu, bahkan ada pertunjukan live music yang asyik!

3. Kedai Seni Djakarte

(Devi/detikFood)(Devi/detikFood)

Di dekat kawasan Kota Tua, dekat Museum Fatahillah juga ada salah satu kafe yang juga tidak boleh dilewatkan. Yakni Kedai Seni Djakarte.

Traveler bisa menikmati makanan khas Kolonial dan Nusantara di sini. Ada bagian luar dan dalam, sehingga traveler bebas melihat suasana Kota Tua yang historis. Nongkrong bersama kerabat di sini pasti tahan berjam-jam!

4. Tugu Kunstkring Paleis

(Annisa Budiarti/d'Traveler)
(Annisa Budiarti/d’Traveler)

Restoran yang satu ini, memang memiliki konsep fine dining di bangunan tua bekas zaman Belanda. Namun jangan salah, nongkrong santai juga bisa kok.

Di dalamnya, ada Suzie Wong Lounge dengan suasana oriental yang tidak biasa. Balutan warna merah dan hitam yang mendominasi, membuat Traveler serasa berada di kafe kawasan Pecinan zaman dulu.

Soal hidangan juga bervariasi, mulai dari Chinese Food, Western sampai makanan ala Indonesia tersedia. Di lantai 2 bahkan ada galeri seni yang bisa traveler kunjungi.

5. Kedai Tjikini

(Devi/detikFood)Kedai Tjikini (Devi/detikFood)

Seperti namanya, kedai yang satu ini populer dikalangan masyarakat yang tinggal di kawasan Cikini. Inilah Kedai Tjikini.

Meskipun tempatnya bergaya Kolonial, interior didalamnya sudah cukup kekinian lho. Anak-anak muda Jakarta juga sering nongkrong di sini.

Makanannya pun bervariasi, dari hanya sekedar kopi, camilan sampai aneka makanan berat seperti nasi dan sayur lodeh juga ada.

 

Source : https://travel.detik.com/domestic-destination/d-4065583/lebaran-di-jakarta-coba-nongkrong-di-5-tempat-jadoel-ini

Kisah Teko dan Kebaikan Hati di Jantung Glodok

Published: 20 Juli 2017 (student.cnnindonesia.com)

Jakarta, CNN Indonesia — Di jantung kawasan Glodok, Jakarta, dulu pernah ada seorang China yang baik hati bernama Kapiten Gan Djie. Kebaikan hati sang Kapiten dan istrinya menjadi cerita turun temurun di kawasan itu.

Dulu sang Kapiten China ketiga ini dan keluarganya selalu menaruh delapan teko berisi air minum dan teh gratis bagi pedagang atau siapa saja yang merasa kelelahan dan ingin beristirahat.

Keberadaan teko inilah menjadi cikal bakal lahirnya area Patekoan di Glodok, yang kini menjadi bagian dari jalan Perniagaan.

Sosok Lin Che Wei mencoba menghidupkan kembali semangat kebaikan hati ini di bangunan Apotheek Chung Hwa yang berlokasi di Jalan Pintu Besar Selatan, di pintu masuk Jalan Pancoran, Glodok.

Bangunan Apotheek Chung Hwa ini sendiri persisnya beralamat di Jalan Pancoran Nomor 6. Kamu bisa menemukan sebuah meja yang di atasnya terdapat delapan teko klasik berisi air minum yang bisa kamu minum secara gratis.

Di sana tertulis “Tradisi “Patekoan” (8 Teko). Silahkan Minum! Teh untuk kebersamaan. Teh untuk masyarakat.”

Apotheek Chung Hwa sendiri sekarang sudah berubah fungsi menjadi rumah teh bernama Pantjoran Tea House.

Berdasarkan catatan yang ada, bangunan ini adalah bangunan pertama di pintu masuk Kota Tua Jakarta, yang pernah dinominasikan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menjadi Situs Warisan Dunia ke UNESCO.

Meski tak berhasil masuk daftar Situs Warisan Dunia, bangunan yang berdiri pada 1928 ini adalah saksi penting sejarah area Glodok dan Jakarta.

Bagi Batavia pada zaman dulu, Glodok adalah area yang penting, terutama dalam proses perubahan Batavia menjadi Jakarta. Pancoran Glodok adalah gerbang utama memasuki Batavia dari selatan.

Nama Glodok sendiri berasal dari bunyi air di pancuran kanal di sana, yang mengeluarkan bunyi “Grojok..grojok” dan oleh lidah orang China kemudian disebut Glodok. Pancuran itu sendiri menginspirasi nama kawasan Jalan Pancoran.

Mengenal Kapiten Baik Hati

Menurut catatan, Kapiten Gan Djie diangkat sebagai Kapiten der Chineezen pada 10 April 1663 dan menjabat sampai 1675. Dia berasal dari Ciangciu, China, yang merantau ke Gresik untuk berdagang hasil bumi.

Alkisah, saat beristirahat di sebuah, seorang perempuan Bali menolongnya dari orang jahat. Wanita itu pun diperistrinya dan kemudian diboyongnya ke Batavia.

Di Batavia dia berkenalan dengan Kapiten de Chineezen Phoa Beng Gam yang sudah lanjut usia. Atas usul sang Kapiten, Gan Djie kemudian diangkat sebagai kapitan oleh Gubernur Jenderal Batavia, Joan Maetsuycker, yang juga pernah merasakan kebaikan hati Gan Djie. (ded/ded)

 

Foto: Dok. Istimewa/Oyen Ongkodharma

Sumber Artikel: https://student.cnnindonesia.com/edukasi/20170720125439-445-229135/kisah-teko-dan-kebaikan-hati-di-jantung-glodok/

Bernostalgia Bersama Pantjoran Tea House Yang Berjaya Pada Masanya

Published: May 2017 (qubicle.id)
Saya yakin sebagian dari kita pasti belum pernah mendengar tempat yang satu ini. Mungkin juga masih jarang buat yang pernah mengunjunginya. Namanya adalah Pantjoran Tea House yang sangat terkenal pada masa dulu.

Pantjoran Tea House ini berada di daerah Glodok. Sekarang tempat ini tidak hanya sebagai tempat untuk makan dan minum saja bagi orang-orang yang datang saja, tetapi juga sebagai pengingat memori atas kejayaannya di masa lalu.

Pada masa kejayaannya, tempat ini dikenal sebagai Apotek Chung Hwa yang telah dibangun sejak 1928. Gedung ini sangat terkenal karena merupakan ini merupakan gedung pertama yang akan dikunjungi oleh para pendatang ketika mereka ke Batavia; sebelum menjadi Jakarta, dahulu namanya Batavia.

Seiring berjalannya waktu, tempat ini menjadi tidak terurus dalam waktu yang cukup lama. Untungnya ada Jakarta Old Town Revitalization Corporation (JOTRC); sebuah konsorsium swasta, didirikan sekitar tiga tahun lalu oleh beberapa orang yang merasa prihatin terhadap upaya pengembangan kawasan kota tua Jakarta yang dikesankan ‘berjalan di tempat’ dan juga Jakarta Endowment for Art and Heritage (Jeforah), yang bisa dikatakan sebagai “penyelamat” Kota Tua.

Ternyata tidak mudah untuk merevitalisasi gedung yang hanya tersisa 20 persen dari aslinya. Ide untuk mengubah sebuah apotek menjadi tempat minum kopi datang dari Gan Djie. Ia adalah seorang pemimpin dari komunitas China yang tinggal di sekitar daerah Kota Tua.

Pada saat itu ia bersama istrinya sudah sangat dikenal suka dengan membagikan teh kepada siapa pun yang berhenti untuk beristirahat di depan kantornya di Kota. Setiap hari Gan menyediakan delapan pot teh serta gelasnya di depan kantornya. Pada waktu itu penjual makanan dan minuman belum sebanyak sekarang, makanya ia menjadi terkenal.

Balik ke masa sekarang, Pantjoran Tea House telah dibuka sejak tahun lalu (2016). Karena lokasinya di daerah Pecinan, maka makanan yang dijual juga khas Peranakan. Yang kami rekomendasikan ketika berkunjung ke sini adalah Nasi Goreng khas Pantjoran, Gurame Asam Manis, dan Dimsum.

Selain makanan, minumnya adalah teh pastinya. Kamu harus mencoba berbagai teh yang tersedia di sini. Seperti misalnya mereka menjual Chinese Tea yang juga termasuk melati, smoky green, jade oolong, tie gaun;teh asal jepang seperti ocha dan genmaicha, serta English tea dan teh Indonesia.

Sumber Artikel: https://qubicle.id/story/bernostalgia-bersama-pantjoran-tea-house-yang-berjaya-pada-masanya

Dari Apotheek Chung Hwa menjadi Pantjoran Tea House

Published: 9 January 2018 (bobo.grid.id)

Ternyata, gedung ini punya cerita sejarahnya, lo.

Apotheek Chung Hwa

Sebelum menjadi tea house, gedung ini adalah sebuah apotek yang terkenal pada zaman dahulu, yaitu Apotheek Chung Hwa.Bisa dibilang, sejak dahulu, bangunan ini sudah mengundang perhatian setiap orang yang datang ke kawasan Glodok.

Kapiten Gan Djie
Ide perubahan apotek menjadi tea house ini sebenarnya berasal dari kisah kapiten Gan Djie, orang yang diminta Belanda untuk memimpin kawasan Glodok.Nah, pada masa penjajahan Belanda itu, kapiten Gan Djie dan istrinya punya kebiasaan unik.Mereka menaruh 8 teko teh di depan kantornya untuk para masyarakat yang lewat. Akhirnya, kebiasaan ini pun menjadi terkenal.

Dari cerita Kapiten Gan Djie, bangunan Apotek Chung Hwa dipugar hingga menjadi Pantjoran Tea House yang kita lihat saat ini.Sebenarnya ada sekitar 20% dari gedung dahulu yang dipertahankan sampai sekarang.Bangunan ini pun termasuk dalam proyek pemugaran kawasan Jakarta, yaitu  Jakarta Old Town Revitalization Corporation (JOTRC) dan Jakarta Endowment for Arts and Heritage (Jeforah).

Suasana Tenang dan Menu Lezat

Masuk ke Pantjoran Tea House membuat kita langsung merasa tenang. Pilihan warna interiornya yang dominan coklat dan putih membuat gedung ini terasa klasik.Di dalam gedung, juga disajikan berbagai informasi sejarah seputar teh dan kawasan pecinan Glodok. Dijamin, selain kenyang, kita juga mendapat banyak informasi baru.

Pilihan menu makanan dan minumannya pun beragam, tentu saja dominan teh.
Nah, setelah makan, ada juga es krim berbagai rasa yang bisa dinikmati sebagai penutup. Es krim ini juga memakai resep yang dipertahankan sejak dahulu.
Reporter : Putri Puspita 
Editor : Iveta Rahmalia

Pantjoran Tea House : Reviving Jakarta’s Old Town Treasures

Published: 19 January 2017 (www.wanderbites.com)

Back in 1663 when the Dutch still ruled the land and Jakarta was called Batavia, Kapitein Gan Djie and his wife used to offer tea for worn-out workers and merchants who passed in front of his office in the heart of Glodok. This simple act of kindness made tea an important part of Jakarta Old Town’s history. More than three hundred and fifty years later, Pantjoran Tea House was born.

The birth of Pantjoran Tea House is a part of the revitalization of Jakarta Old City, a joint task between Jakarta Old Town Revitalization Corp (JOTRC), the local government, and the Ministry of Education and Culture. This great effort aims to revive the historic area and make it into a distinctive attraction.

Pantjoran Tea House occupies the building that housed Jakarta’s oldest pharmacy: Apotheek Chung Hwa. The exterior of this two-story structure is kept intact, while the interior is arranged into a traditional Chinese shophouse. The big windows and the use of tegel kunci-style flooring adds to that vintage feeling, asking customers to time-travel for a while.

 

Pantjoran Tea House (Jakarta Old Town)
Who would’ve thought this used to be an apothecary.

Jakarta Interior Photographer

Despite its well-thought construction, one might say that Pantjoran Tea House relies too much on its historical values. A lot of things need more attention and work, such as limited parking space and the quality of food. There are indeed a couple of tasty dishes like Prawn with Salted Egg, but the variety of menu makes this tea house seem like just another Chinese restaurant. The intended specialty of this place, tea, also feels too generic.

Although the location and historical values are enough to invite both locals and tourists (at the time of our visit, there were two tables occupied by English-speaking tourists) for the first time, a restaurant’s survival eventually depends on food and service. At the end of the day, it is what will keep people coming back for more. In short, my eyes and minds were pampered well, but my taste buds still look for another reason to come back other than the Salted Egg Shrimp.

Restaurant Interior Photographer Jakarta

Pantjoran Tea House (Jakarta Old Town)
Our favorite dish. Salted Egg Shrimp
Pantjoran Tea House (Jakarta Old Town)
Nasi Campur ala Pantjoran

Perhaps Pantjoran Tea House could improve the quality of food and make the menu more interesting by incorporating dishes like “The Kapitein’s favorite”? After all, the establishment is still in its beginning and have room to be better. We wish Pantjoran Tea House the best of luck, hopefully they can write a beautiful story that lives up to Gan Djie’s tea legacy.

@captainruby

Pantjoran Tea House
Instagram: @pantjoran_tea
Address: Jalan Pancoran Raya No. 4-6, Glodok
Opening Hours: 7AM – 9PM

Sumber Artikel: https://www.wanderbites.com/jakarta-restaurant-review/pantjoran-tea-house/

Lokasi Pantjoran Tea House Jakarta

Home

Kedai teh ini terletak di Jalan Pancoran No. 6 Kelurahan Glodok, Kecamatan Taman Sari, Kota Jakarta Barat, Provinsi DKI Jakarta.

Sejarah Pantjoran Tea House Jakarta

Kekhasan bangunannya yang terletak di sudut jalan ini, menjadikan bangunan lawas bekas Apotek Chung Hwa menjadi salah landmark yang terdapat kawasan Glodok dan Kota Tua Jakarta. Hal ini yang menginspirasi PT JOTRC (Jakarta Old Town Revitalization Corporation) yang berkerjasama dengan Pemprov DKI Jakarta untuk memasukkan Apotek Chung Hwa sebagai salah satu bangunan yang direvitalisasi. Pemugaran bangunan bekas Apotek Chung Hwa memakan waktu sekitar 8,5 bulan, dan selesai pada 15 Desember 2015. Gedung yang awalnya memiliki luas bangunan 400 m² itu, kini hanya tersisa sekitar 218 m². Luas bangunan ini berkurang, karena terpotong proyek pelebaran jalan di kawasan Glodok.

Sekarang gedung tersebut telah utuh kembali, berdinding warna krem dan didesain dengan hiasan jendela kaca memanjang mengelilingi bagian luarnya. Bohlam-bohlam lampu bercahaya kuning temaram menggantung menghiasi ruangan. Kendati sudah purna pugar dan siap dihuni lagi, namun bangunan tua ini tidak akan dimanfaatkan kembali sebagai toko obat atau apotek lagi, melainkan difungsikan sebagai Pantjoran Tea House.

Pantjoran Tea House adalah sebuah kedai teh bernuansa Tiongkok. Interiornya pun dibuat dengan unsur Tiongkok yang kuat. Terlihat dari pemilihan ornamen kisi-kisi dan pintu bergaya Tiongkok dan lantai keramik dengan gaya serupa. Desain ini memang dipilih dalam merevitalisasi bangunan tua ini, untuk mempertahankan budaya Tiongkok yang identik dengan China Town sebagai bagian dari Kota Tua Jakarta.

Sumber Artikel: https://situsbudaya.id/sejarah-pantjoran-tea-house-jakarta/

Minum Teh Sambil Bernostalgia? Mampirlah ke Pantjoran Tea House di Glodok, Jakarta

Published: 01 April 2017 (www.femina.co.id)

FOOD REVIEW
Foto: HC, Dok. Pantjoran Tea House

Alamat: Jl. Pancoran Raya No.4-6, Glodok, Jakarta.
Telp:
 (021) 6905904.
Jam buka: 07.00 – 21.00 WIB.
Harga*: Rp10.000 – Rp150.000.
Suasana: Tenang dan nyaman dalam interior kolonial yang jarang ditemui.

*) Harga dapat berubah sewaktu-waktu. Cek sebelum bersantap.

Cerita perjalanan Apotheek Chung Hwa terlalu indah untuk tidak kembali diteruskan. Inilah apotek tertua di Jakarta yang hadir di tahun 1928 dan dikenal pula sebagai ‘pintu gerbang’ kawasan Pecinan berkat lokasi strategisnya.

Puluhan tahun tak ditinggali dan terbengkalai, nafas baru menampakkan kembali wajah cantik gedung tua lewat proyek Jakarta Old Town Revitalization Corporation (JOTRC) yang bekerja sama dengan Pemprov DKI Jakarta.

Ketua Ikatan Arsitek Indonesia (IAI), Ahmad Djuhara, memimpin renovasi dan memberikan dominasi warna putih, serta desain furnitur dan elemen ruang serba kayu yang mengisi ruang dengan apik. Di sini, kini hadir Pantjoran Tea House.

Operational ManagerRonald Dani Heriawan, menyebutkan bahwa kawasan Chung Hwa dulunya dikenal dengan nama Patekoan (sekarang Jalan Perniagaan), perpaduan dari kata Mandarin ‘pa’ (delapan) dan ‘tekoan’ (teko). Sebuah nama yang diangkat ritual Gan Jie, kapitan Tiongkok di tahun 1663 yang selalu menyediakan 8 teko teh gratis setiap pagi untuk pengunjung atau kuli miskin yang melintas.  Inilah sejarah yang membantu JORTC melanjutkan cerita Apotheek Chung Hwa di Pantjoran Tea House. Di sini, tradisi 8 teko gratis ala Gan Jie berlanjut, dengan teh yang berbeda setiap harinya.

Tak hanya Chinese tea, ada pula sencha dan genmaicha Jepang hingga teh-teh khas Inggris, seperti Earl Grey dan English Breakfast. Yang juga menarik, Fine Flowerytisane (‘teh’ bunga) premium Jawa Timur dengan rasa manis dan aroma bunga yang samar. Juga dari Indonesia, Orange Pekoe yang dulunya salah satu daun teh utama yang diekspor ke Belanda.

Koleksi dim sum-nya menjadi opsi pas untuk menemani teh. Ingin menikmati makan besar selepas duduk-duduk menikmati teh sore? “Favoritnya antara lain Gurame Asam Manis, Ayam Saus Taucho, dan Terong Ayam Ikan Asin,” sambung Ronald. Cita rasa nostalgia yang menemukan keutuhannya kala dinikmati di sebuah lokasi sarat cerita masa lalu. (f)

Helen Christianti

Sumber Artikel: https://www.femina.co.id/food-review/minum-teh-sambil-bernostalgia-mampirlah-ke-pantjoran-tea-house-di-glodok-jakarta

Menyesap Teh Di Pantjoran Tea House

Published: 08 January 2018 (womantalk.com)

Di tengah ramainya kawasan Glodok, terdapat sebuah tempat untuk para pecinta dan penikmat teh, Pantjoran Tea House. Tempat yang baru dibuka pada pertengahan 2016 ini berada tepat di pojokan Glodok. Arsitektur bangunan ini lumayan mencolok di tengah kusamnya bangunan yang ada di kawasan ini. Ternyata, Pantjoran Tea House bukan sekadar tea house.

 Bagian luar Pantjoran Tea House di kawasan Glodok.
Bagian luar Pantjoran Tea House di kawasan Glodok.

Bangunan ini merupakan bagian dari proyek Jakarta Old Town Revitalization Corporation (JOTRC) dan Jakarta Endowment for Arts and Heritage (Jeforah). Bangunan restoran ini dulunya adalah Apotheek Chung Hwa yang dulunya merupakan landmark daerah pecinan Batavia. Bisa dibilang, bangunan ini adalah bangunan yang pertama kali dilihat oleh para pendatang di Batavia. Menurut informasi, pemugaran bangunan ini cukup berat karena hanya 20% dari bangunan asli yang tersisa.

Apotheek Chung Hwa pada zaman Belanda. (Sumber: Tropen Museum)
Apotheek Chung Hwa pada zaman Belanda. (Sumber: Tropen Museum)

Ide untuk mengubah apotek menjadi tempat minum teh berasal dari kisah kapiten Gan Djie pada masa pemerintahan Belanda. Sang kapiten merupakan orang yang ditunjuk oleh pemerintah Belanda untuk memimpin kawasan pecinan ini. Selama ia memerintah pada 1663 hingga 1675, Gan dan istrinya sering menyajikan teh bagi orang yang kebetulan melewati kantornya. Setiap hari, Gan menaruh 8 teko teh di depan kantornya. Karena kebiasaan ini, Gan dan tehnya menjadi populer. Tempat tersebut juga pernah menjadi gerbang awal kota Batavia yang dibangun oleh Jan Pieterszoon Coen.

(Sumber: Tropen Museum)
(Sumber: Tropen Museum)

Setelah dipugar, tempat ini mempunyai interior bernuansa oriental dengan warna dominan cokelat kayu. Nuansa ini terasa pada ukiran pintu, jendela, dan penyekat ruangannya. Untuk membuat tempat ini lebih kontemporer, bohlam dan berbagai lukisan terlihat menghiasi dinding.

Suasana interior restoran.
Suasana interior restoran.

Makanan yang disajikan di Pantjoran Tea House mempunyai akar peranakan. Ada Nasi Goreng khas Pantjoran dengan warna merah, Gurame Asam Manis, dan aneka dimsum. Dari segi makanan, rasa yang ditawarkan oleh Pantjoran Tea House terkesan biasanya saja. Namun untuk varian teh, meski pun tidak terlalu lengkap, Pantjoran Tea House menyediakan berbagai teh dari daerah Inggris, Tiongkok, Jepang, dan tentunya Indonesia.

Nasi Goreng Khas Pantjoran
Nasi Goreng Khas Pantjoran
Gurame Asam Manis
Gurame Asam Manis
 Dimsum
Dimsum
Anda bisa menikmati aneka teh di sini.
Anda bisa menikmati aneka teh di sini.

Jika Anda ingin menikmati suasana Pecinan yang klasik, Anda bisa datang ke restoran ini.

Pantjoran Tea House
Jalan Pintu Besar Selatan
Seberang Plaza Glodok, Kota Tua, Jakarta

 Tatu | Contributor
Sumber Artikel: https://womantalk.com/food/articles/menyesap-teh-di-pantjoran-tea-house-y176E

Pantjoran Tea House: Menikmati Teh China dan Siomay Kepiting di Kawasan Pecinan

Published: 05 May 2017 (food.detik.com)

Jakarta – Ingin menyesap teh China sambil menikmati dim sum? Datang saja ke sini untuk mencicip teh phu erh dengan pelengkap siomay dan lumpia renyah.

Pantjoran Tea House yang berlokasi di Glodok baru berdiri sekitar satu tahun. Tapi keberadaannya sudah jadi perbincangan karena mengusung konsep kedai teh di tengah Pecinan. Apalagi budaya minum teh di kawasan Pecinan sudah sangat kuat sejak dulu.

Meski cukup baru, bangunan untuk restoran merupakan salah satu landmark di wilayah tersebut yang sudah ada sejak tahun 1635. Tahun 1928, bangunannya sempat menjadi toko obat “Apotheek Chung Hwa” yang disebut tertua kedua di Jakarta.

Mengenai sejarahnya, bangunan direvitalisasi pada tahun 2015 oleh arsitek Ahmad Djuhara. Kemudian gedung difungsikan jadi Pantjoran Tea House. Kehadirannya ikut mendukung upaya pemerintah membuat kawasan Kota Tua Jakarta sebagai situs warisan budaya dunia oleh UNESCO.

Pantjoran Tea House: Menikmati Teh China dan Siomay Kepiting di Kawasan PecinanSuasana di dalam Pantjoran Tea House

Ketika tiba di sana, terdapat keunikan yang kami temui pada bagian depan kedai teh itu. Ada sebuah meja panjang yang ditaruh 8 teko. Tertulis “Tradisi Patekoan (8 Teko) Silahkan Minum! Teh untuk kebersamaan. Teh untuk masyarakat.”

Masyarakat bisa mengambil secara cuma-cuma teh yang ada dalam teko mulai pukul 10.00-18.00. Tersedia juga gelas untuk menikmatinya.

Menurut staf Pantjoran Tea House, adanya teko itu mengikuti tradisi Kapiten Gan Djie yang sudah jadi cerita turun menurun di Glodok. Dulunya ia dan istrinya selalu meletakkan delapan teko teh untuk pedagang keliling dan orang yang kelelahan di areanya.

Memasuki bangunan dua lantai itu akan ditemui nuansa khas peranakan. Pemakaian lantai tegel ikut memberi atmosfer vintage. Beberapa furnitur kayu dan pajangan dengan sentuhan klasik menghiasi ruangan. Ada juga banyak informasi mengenai sejarah hingga jenis teh di dinding restoran.

Mengenai menunya, tentu didominasi teh dan makanan khas China. Untuk teh, ada pilihan teh panas atau dingin. Kategorinya ada Chinese Tea, Japanese Tea, English Tea dan Indonesia Premium. Termasuk Jasmine, Oolong, Phu Earl, Smoky Green Tea, Chrysanthemum, Tie Kwan In, Sencha, Genmaicha, Earl Grey, English Breakfast dan Orange Pekoe.

Kami pun tak melewatkan Chinese tea saat di sana. Berupa Phu Earl (Rp 30.000) panas dan Tie Kwan In (Rp 25.000).

Teh phu earl punya warna merah kecokelatan. Teh hitam ini diseduh dengan suhu 100 derajat Celcius.

Pantjoran Tea House: Menikmati Teh China dan Siomay Kepiting di Kawasan PecinanPhu Earl dengan aroma earthy disajikan hangat

Aroma earthy mencuat ketika teh tersaji di depan kami. Rasanya sendiri tidak pahit dan ringan. Sedikit mengingatkan akan aroma kayu di tiap sesapan. Untuk teh panas di Pantjoran Tea House, bisa isi ulang.

Sementara Tie Kwan In menurut staf merupakan jenis teh merah. Warnanya sendiri kuning kehijauan mirip teh hijau. Aromanya juga serupa teh hijau.

Teh diseduh dengan air panas 90 derajat Celcius. Kemudian teh disaring baru diberi es. Ini kabarnya membuat warna teh jadi agak berubah. Begitu pula rasa yang lebih tajam ketika panas.

Pantjoran Tea House: Menikmati Teh China dan Siomay Kepiting di Kawasan PecinanTie Kwan In yang disajikan dingin yang warnanya mirip teh hijau

Rasanya cenderung pahit dan pekat. Seperti ada semburat rasa bunga ringan di akhir sesapan. Karena dibuat dingin, teh jadi begitu menyegarkan.

Sebagai pelengkap minum teh kami memesan camilan ringan. Sebenarnya ada beragam olahan seafood, daging, sup, sayuran maupun mie. Seperti Udang Saus Hongkong, Sup Perut Ikan, Gurame Saus Telur Asin, dan Kwetiaw Siram Seafood.

Kami memesan Siomay Kepiting (Rp 28.000), Lumpia Bola Isi Sayuran (Rp 25.000) dan Tahu Lada Garam (Rp 25.000). Pilihan lainnya ada pao atau hakao.

Siomay kepiting merupakan menu baru di sini. Dalam klakat bambu ada tiga potong siomay yang hangat. Rasanya gurih cenderung manis dengan tekstur empuk.

Pantjoran Tea House: Menikmati Teh China dan Siomay Kepiting di Kawasan PecinanSiomay Kepiting

Dalam siomay ada irisan jamur shitake dan crabstick yang menambah citarasa siomay. Kami seperti mencecap tekstur renyah udang dalam siomay, tapi kurang menemukan rasa kepiting. Siomay bisa dinikmati bersama saus encer yang agak pedas.

Pantjoran Tea House: Menikmati Teh China dan Siomay Kepiting di Kawasan PecinanLumpia Bola Isi Sayuran

Lumpia Bola Isi Sayuran juga cocok bagi selera kami. Kulit lumpia bertekstur renyah namun agak sedikit berminyak. Isiannya Ada wortel dan bengkuang yang membuat rasanya agak manis. Lumpia ini disajikan bersama saus bercitarasa asam manis.

Terakhir kami mencoba Tahu Lada Garam. Tahu diberi balutan tepung. Permukaannya bertabur cincangan cabai merah, daun bawang dan bawang putih goreng.

Pantjoran Tea House: Menikmati Teh China dan Siomay Kepiting di Kawasan PecinanTahu Lada Garam

Tahu yang lembut berpadu dengan adonan tepung renyah. Rasanya gurih dengan aroma bubuk khas China. Cabai dan bawang putih menambah kenikmatan sajian.

Nah, belum ada tujuan berakhir pekan? Jika ada di kawasan Pecinan bisa mampir ke Pantjoran Tea House. Nikmati ragam teh sambil mencicip makanan di sini.

Pantjoran Tea House
Jl. Pancoran Raya No. 4-6
Glodok
(Seberang Plaza Glodok)
Jakarta Barat
Telp: 021-6905904

Maya Safira
Foto: detikFood

Pantjoran Tea House, Resto Kekinian di Kawasan Glodok

Published: 03 April 2017 (www.kompasiana.com)

Pernah beberapa saat gedung ini terabaikan sebagai rumah kosong. Padahal gedung ini menyimpan banyak catatan sejarah, dari masa Batavia hingga Jakarta saat ini. Secara marketing, gedung ini letaknya sangat strategis karena terletak di ujung jalan Pancoran, kini jalan Perniagaan.

Sejarah Gedung

Pada masa lalu di era Batavia, kawasan kota sekarang adalah kawasan niaga. Banyak pedagang keliling dan orang lalu lalang yang kelelahan dan kepanasan. Kapiten Gan Djie seorang Kapiten warga Tionghoa dan isterinya sepakat untuk meletakkan delapan teko berisi air teh bagi mereka yang menumpang beristirahat di depan kantornya. Delapan (pat dalam bahasa Tionghoa) menjadi asal muasal jalan ini dinamakan jalan Patekoan.

Tradisi Patekoan (Dok Pri)
Tradisi Patekoan (Dok Pri)

Gedung ini merupakan saksi sejarah kawasan Glodok, sedang dinominasikan kepada UNESCO sebagai World Heritage Site. Ironisnya, hingga saat ini gedung ini belum dinyatakan sebagai bangunan cagar budaya.

Nama Glodok dan Pancoran sendiri menurut sejarah dari mulut ke mulut, merupakan plesetan dari pancuran yang merupakan sumber air bagi warga kota Batavia, maka daerah itu dikenal sebagai “Pancoran”. Air dari pancuran yang menggerojok menimbulkan bunyi. “Grojok” dan pelafalan orang Tionghoa atau Betawi sering menyebut “Glodok”.

Apotek

Semangat solidaritas ini dilanjutkan oleh Lin Che Wei yang menjadikan gedung ini sebagai apotek Chung Hwa. Delapan teko tetap disediakan diantara jalan Pintu Besar Selatan dan jalan Pancoran, Glodok. Gedung cagar budaya milik perseorangan ini direvatilisasi oleh arsitek konservasi selama 16 bulan sejak September 2014 dan diresmikan 15 Desember 2015 oleh CEO Jakarta Old Town Revitalization Corp (JOTRC). Dan saat ini gedung ini difungsikan sebagai Pantjoran Tea House.

Pantjoran Tea House

Pantjoran Tea House (PTH) terletak tepat diseberang Glodok City Plaza dengan arsitektur Tiongkok.  PTH sebagai rumah teh berharap para pengunjung bisa berbagi kehangatan seperti era Batavia dulu,  menjadi sebuah restoran kekinian dengan spesialisasi teh. Teh yang disediakan dari impor (Jepangh, China) juga lokal.

Sebuah tradisi yang tetap dilestarikan adalah Patekoan, yakni meletakkan delapan teko berisikan teh dengan teko tua dan gelas jadul, yang disajikan cuma-cuma untuk para pejalan kaki yang sedang melintas.

Memasuki PTH yang tetap mempertahankan arsitektur asalnya, hanya suasananya sudah dibuat nyaman. Gedung dua lantai ini banyak memajang lukisan di dinding yang menggambarkan PTH tempo dulu. Juga penempatan lampu yang khas menambah daya tarik rumah makan ini. Di sini,  Anda dapat menikmati kudapan dengan beragam pilihan teh yang disajikan panas maupun dingin. Bila Anda mau menikmati makanan berat juga tersedia beragaram pilihan makanan seperti nasi goreng, kweetiauw dan lain-lain.

Interior PTH saat ini (Dok Pri)
Interior PTH saat ini (Dok Pri)
Interior PTH saat ini (Dok Pri)
Interior PTH saat ini (Dok Pri)
Lukisan PTH masa lalu (Dok Pri)
Lukisan PTH masa lalu (Dok Pri)

Restoran dengan suasana yang nyaman, makanan yang enak di santap dan wifi berkecepatan tinggi akan membuat pengunjung betah sambil menikmati suasana Glodok. Pada pintu keluar, Anda dapat menemukan ice cream jadoel dalam bentuk cup atau stick yang rasanya khas, silakan dinikmati juga guna mendinginkan diri Anda dari suasana kota Jakarta yang selalu panas.

Anda tertarik untuk mengunjungi restoran ini? Restoran ini buka tiap hari dari jam 10.00-21.00 WIB. Biaya untuk makan-minum dua orang 200-300 ribu Rupiah termasuk pajak dan layanan.

Pantjoran Tea House

Jl. Pancoran No. 6, Jakarta Barat.

Telepon 021-6905904

Sutiono Gunadi

Sumber Artikel: https://www.kompasiana.com/sutiono/pantjoran-tea-house-resto-kekinian-di-kawasan-glodok_58e1a600bf22bdf1048b456a

Made with ♥ from Pantjoran Tea House © 2019