Kisah Delapan Teko Teh yang Mengemuka Setelah Bangunan Apotek Dihidupkan Kembali

Jalan Pancoran Raya, Glodok, Jakarta Barat sudah kenamaan jadi pusat pengobatan tradisional sejak 1930-an.

Ada yang menjajakan obat di lapak tepi jalan, di kios, atau di ruko plus jasa sinse. Apotheek Chung Hwa, salah satunya.

Toko obat yang berdiri pada 1928 ini merupakan toko kedua tertua setelah Tai San Ho.

Chung Hwa terletak tepat di pangkal Jalan Pancoran Raya. Gerbang Pecinan, begitu orang mengenal area ini.

Warga Cina daratan dipersilakan bermukim di sini sejak 1635, sekitar 16 tahun setelah kota Batavia didirikan “Mur Jangkung” alias Jan Pieterszoon Coen.

Di kawasan gerbang Pecinan, budaya minum teh tumbuh subur.

Bibit tehnya dibawa dari Jepang oleh Andreas Cleyer, ahli botani dan Japanolog yang bekerja untuk VOC pada 1684.

Bibit itu ditanam di sekitar Tijgergracht, kanal di Batavia abad ke-17 yang melintang ke gerbang Pecinan.

Daun teh asli Cina berjenis Camelia sinensis itu biasa diseduh dengan air panas oleh warga Cina daratan.

Kebiasaan ini merebak ke penjuru Batavia ketika terbukti mampu mengurangi wabah disentri pada masa itu.

Gerbang Pecinan sendiri merupakan mulut kawasan Kota Tua Jakarta.

Bila masuk dari kawasan Kota Tua Jakarta dari arah selatan, gedung Apotheek Chung Hwa menjadi gedung pertama kawasan inti Kota Tua Jakarta.

Lokasi yang bagus serta nilai sejarahnya membuat bangunan gedung ini terpilih untuk direvitalisasi sebagai bagian persiapan nominasi Situs Warisan Dunia UNESCO 2016.

Pelaksananya Jakarta Old Town Revitalization Corps (JOTRC).

Chung Hwa direvitalisasi bersama 16 gedung bersejarah lain yang turut dinominasikan.

“Revitalisasi bangunan eks Apotheek Chung Hwa menjadi simbol revitalisasi Kota Tua Jakarta, dimulai dari mulut kawasannya,” tutur Lin Che Wei, Chief Executive Officer JOTRC saat itu.

Mengembalikan wajah kota tua

Gedung yang beroperasi sebagai apotek hingga 1957 ini jadi salah satu gedung pertama yang direvitalisasi.

Ukuran yang relatif kecil ketimbang gedung-gedung heritage lain jadi pertimbangan awal.

Di samping itu, bangunannya juga belum hendak roboh, tidak seperti beberapa gedung lain.

Struktur atap asli bahkan masih terlihat di bangunan ini.

Anneke Prasyanti, Project Manager JOTRC kala itu menuturkan, pilihan struktur kuda-kuda memang ngetren pada masa berdirinya bangunan apotik.

Bentuk atapnya cocok diaplikasikan di negara tropis.

Sirkulasi udara jadi bagus karena struktur atap kuda-kuda yang tinggi menjaga hawa dalam ruangan tetap sejuk.

Udara panas mengalir lewat kisi-kisi genteng merahnya.

Kendati demikian, Anneke bercerita, revitalisasi bangunan ini jadi salah satu yang tersulit.

Karena meski bangunannya sendiri tidak seberapa besar, namun bentuknya sudah berubah dari gedung aslinya dulu.

Sebelum direvitalisasi, gedung kondisinya terbengkalai.

Padahal gedung dua lantai itu masih difungsikan sebagai ruko oleh beberapa orang.

Pernah pula satu bangunan disekat-sekat menjadi lima toko.

Bagian dalam bangunan pun sudah mengalami banyak perubahan.

Area yang seharusnya jendela, ditambal batu bata untuk membuat sekat.

“Bentuknya sudah sangat aneh. Padahal kami riset, bangunan utamanya ada di hook dan lebar,” ujar Anneke.

Anneke bercerita, perubahan bentuk gedung juga disebabkan adanya pelebaran jalan.

Berdasarkan hasil riset, setidaknya sepertiga bangunan sudah hilang.

Luas gedung yang awalnya 400 m2 tinggal 218 m2 akibat pelebaran jalan.

Karena tidak diketahui bentuk aslinya, tim arsitek harus nge-plot ulang kondisi dalam bangunan.

Kolom-kolom yang ditambahkan pemilik-pemilik baru gedung membuat mereka kian sulit mereka ulang.

Dokumentasi bangunan juga tidak memadai.

“’Kayaknya bukan yang ini,’ hampir selalu begitu ungkapan para arsitek setiap habis menggambar,” tutur Anneke.

Di samping mengembalikan wajah aslinya, renovasi diupayakan menggunakan material asli sesuai dengan saat pertama kali dibangun.

Material yang dapat dipertahankan sebisanya dipakai ulang.

Kuda-kuda bangunan dan genteng yang masih utuh, salah satunya.

Sekitar 40% genteng digunakan lagi di proses perbaikan bangunan.

Kesemuanya merupakan genteng berkait dua yang asli dipakai sejak awal dibangun.

Padanan yang mirip ditemukan di Serang, Banten.

Meskipun prosesnya lebih sulit, karena penggunaan genteng dengan jenis ini sudah jarang, tim arsitek mengusahakan penggunaan material yang semirip mungkin.

Rumah teh

Berseberangan dengan pasar Glodok yang padat, keberadaan bangunan eks Apotheek Chung Hwa itu tampak kontras, meski sama-sama bernuansa pecinan.

Pantjoran Tea House, begitu nama barunya.

Dindingnya kini putih susu, dengan elemen kayu di jendela dan pintu berornamen khas Cina.

Sejak resmi dipakai kembali, Desember 2015, lantai satu difungsikan sebagai ruang minum teh dan camilan.

Sudut hook bangunan dipakai sebagai toko cenderamata yang menjual beragam dauh teh.

Di teras hook, delapan teko teh gratis tersedia bagi pejalan yang sedang haus.

Dengan ruang yang lebih luas, ruang minum teh dan makan diletakkan di lantai atas.

Bangku-bangku thonet khas kopitiam melengkapi meja-meja kecil dari kayu jati berkapasitas hingga 80 pengunjung.

Partisi-partisi kayu dengan pola geometri Cina menggantikan fungsi dinding di lantai dua.

Lattice ini juga berfungsi sebagai pembatas antar ruang, antara ruang VIP dan publik.

Di lantai ini, jendela juga dibuat besar-besar seperti awal berdiri, sehingga memberi kesan menyatu dengan pemandangan luar lalu-lalang di pinggir jalan.

Dengan nuansa interior Tionghoa yang kental, orang kerap memanfaatkan ruang-ruang rumah teh ini menjadi lokasi shooting dan photoshoot program televisi, iklan, dan produk bernuansakan Cina.

Tidak sedikit pula yang melaksanakan sanjit, lamaran tradisional Tionghoa di sini.

Pengunjung yang datang biasanya bersantai sore dengan minum teh dan camilan ragam dimsum.

Pilihan teh tersedia dari yang siap teguk sampai gongfu cha experience.

Pantjoran Tea House memang ingin merawat tradisi gongfu cha, yakni tata cara minum teh secara tradisional.

Semua teh dipetik langsung dari Cina, Taiwan, dan Indonesia, dengan pilihan jenis teh hijau sampai dong ding.

Jika memilih gongfu cha, pengunjung bisa menjajal tradisi khas Tionghoa ini berbekal kertas manual, sambil dibantu tea specialist Pantjoran Tea House.

Pengunjung bisa melihat dulu sang tea specialist menyeduh daun teh pilihannya dengan benar, baru kemudian mereka praktikkan sendiri.

Sebagai rumah bagi para penikmat teh, Pantjoran Tea House juga menjadi tempat edukasi tentang teh yang sejarahnya menjadi bagian dari kisah Pecinan di Batavia.

Beragam pengetahuan tentang Cina peranakan juga menjadi agenda tempat ini sepanjang tahun.

Pertunjukan barongsai, melukis kaligrafi Cina, nonton bareng short documenter series of chinese teatea tasting, membuat bakcang, membuat onde, menghias lampion, membuat kue bulan, dll.

Biasanya, pada hari-hari menjelang Imlek, Pantjoran akan kian ramai pengunjung yang hendak makan malam dan makan siang sekeluarga.

Tak heran, karena di samping beraneka teh, makanan yang disajikan pun otentik chinese.

Angsio fishmaw, sayur poleng rasa tiga telur, dan ayam sayur asin ang cho adalah contohnya.

Delapan teko teh

Salah satu yang menarik, di teras depan gedung, Pantjoran masih melakukan tradisi Patekoan, yaitu menyajikan delapan teko teh secara cuma-cuma untuk siapa pun yang kebetulan sedang melintas.

Pa” secara harfiah berarti delapan, sedangkan “tekoan” adalah teko.

Angka delapan secara filosofis dianggap sebagai angka keberuntungan karena bentuknya yang tak pernah putus.

Harapannya, teh dari patekoan ini akan membawa keberuntungan baik bagi yang menyajikan maupun yang meminum.

Program teh gratis di rumah teh ini terinspirasi dari kisah kebaikan Kapitein der Chineezen Gan Djie dan istrinya.

Gan Djie merupakan Kapiten Cina ketiga di Batavia (1653-1666) yang menggantikan Phoa Beng Gam.

Bagian depan kantor Kapiten warga Tionghoa di Batavia ini seringkali menjadi tempat berteduh pedagang keliling dan orang-orang yang kelelahan di jalan karena hawa panas Batavia.

Saat itu sulit sekali bagi mereka mendapatkan air untuk minum.

Melihat hal ini, istri Gan Djie—yang kemudian dipanggil Nyai Gan Djie—pun mengusulkan pada suaminya untuk menyediakan air teh.

Di depan kantor kemudian dipasang meja-meja kecil yang setiap pagi dan sore hari tersedia delapan teko teh. 

Delapan teko ini yang kemudian menjadi asal nama Patekoan, daerah yang kini berada di sekitar Jalan Perniagaan Raya, Glodok.

Kisah delapan teko dan rumah Gan Djie sendiri sebenarnya tidak persis terletak di Jalan Perniagaan kini, melainkan di Jalan Perniagaan Raya.

Lin Che Wei menuturkan, upaya untuk menggandeng pemilik rumah Gan Djie pada 2015 untuk bersama merevitalisasi bangunan cagar budaya tersebut telah dilakukan, jauh sebelum memutuskan merevitalisasi gedung Apotheek Chung Hwa.

Sayangnya, upaya ini terkendala kepemilikan bangunan bersama satu keluarga besar.

Kondisi ini juga terjadi ketika tim revitalisasi JOTRC berniat untuk merevitalisasi Tai San Ho, apotek tertua di Jakarta.

Lin menuturkan, itulah sebabnya sepotong kisah delapan teko Gan Djie kemudian dibawa ke gedung di mana Apotheek Chung Hwa berdiri kini, tepat di pintu masuk kawasan inti Kota Tua Jakarta dan Pecinan.

Penyisipan fungsi dalam gedung-gedung tua ini menjadi poin utama dari menyukseskan Kota Tua Jakarta sebagai situs warisan dunia.

Lin menuturkan, gedung yang belum direvitalisasi pada dasarnya bisa dimasukkan ke dalam nomination dossier of wold heritage sites UNESCO.

Akan tetapi, Lin menambahkan, tugas tim revitalisasi kemudian menjaga bangunan agar dapat kembali berfungsi hingga dicatat sebagai situs warisan dunia.

Dan agaknya, tugas kita pulalah kini untuk turut merawat kisah dan tradisi di sekitar Chung Hwa.

Sumber artikel : https://intisari.grid.id/read/032002348/kisah-delapan-teko-teh-yang-mengemuka-setelah-bangunan-apotek-dihidupkan-kembali?page=all

Zach King Berkunjung ke Pantjoran Tea House

Content Creator ternama asal Amerika Serikat, Zach King, belum lama ini berkunjung ke Indonesia. Karya-karya Zach yang sangat unik yang membuatnya dikenal dan dipanuti oleh banyak orang. Pria asal Amerika Serikat ini berkunjung ke Indonesia untuk menjadi pembicara di salah satu acara besar tahunan di Jakarta, IdeaFest 2019.

Di sela-sela berbagai kegiatannya di Jakarta, pada hari Jumat, 4 Oktober 2019, Zach dan seorang temannya menyempatkan diri untuk berkunjung ke Pantjoran Tea House untuk menikmati teh yang disajikan dengan seremoni Gongfu Cha, Seni menyeduh teh khas Cina yang menjadi sajian khas Pantjoran Tea House, Zach mencicipi 2 jenis teh premium yaitu Gemboeng White Tea dan Shou Pu Er. Zac dan temannya tampak sangat menikmati momen minum teh tersebut.

Zach King berfoto di meja Patekoan

Sampai jumpa di lain kesempatan, Zac!

Lebaran di Jakarta, Coba Nongkrong di 5 Tempat Jadoel Ini

Jakarta – Traveler yang tinggal di Ibukota mungkin masih bingung ingin menghabiskan waktu liburan ke mana. Coba saja nongkrong di 5 tempat jadoel ini.

Kalau malas menjelajah, santai di kedai kopi atau restoran jadoel bisa jadi pilihan. Terlebih, Jakarta biasanya jauh lebih lengang saat musim mudik libur Lebaran.

Ternyata banyak lho tempat nongkrong asyik nan bersejarah yang bisa kamu kunjungi di sekitaran Jakarta. Dihimpun detikTravel, Selasa (12/6/2018), ini 5 tempat jadoel rekomendasinya:

1. Pantjoran Tea House

(Shinta/detikTravel)
(Shinta/detikTravel)

Jalan ke daerah Glodok, Jakarta Barat, ada sebuah kafe yang traveler bisa kunjungi. Namanya Pantjoran Tea House.

Sesuai namanya, kafe ini menyajikan teh otentik khas Tionghoa. Suasana kafenya juga senada dengan menu yang disajikan. Bukan hanya aneka jenis teh, tetapi ada juga makanan lain seperti Dim Sum, Mie, dan aneka hidangan khas Tionghoa lainnya.

2. Cafe Batavia

(A. Afandi/d'Traveler)
(A. Afandi/d’Traveler)

Traveler yang pernah ke kawasan Kota Tua, mungkin tidak asing dengan kafe yang satu ini. Ya, apalagi kalau bukan Cafe Batavia yang legendaris.

Bangunan Cafe Batavia memang sudah terkenal bagi pengunjung Kota Tua. Tempatnya juga memiliki kesan historis yang kuat, dengan sajian menu yang sudah ada sejak zaman dahulu.

Traveler bisa menikmati segelas kopi, atau aneka makanan khas Nusantara dan internasional. Di beberapa waktu, bahkan ada pertunjukan live music yang asyik!

3. Kedai Seni Djakarte

(Devi/detikFood)(Devi/detikFood)

Di dekat kawasan Kota Tua, dekat Museum Fatahillah juga ada salah satu kafe yang juga tidak boleh dilewatkan. Yakni Kedai Seni Djakarte.

Traveler bisa menikmati makanan khas Kolonial dan Nusantara di sini. Ada bagian luar dan dalam, sehingga traveler bebas melihat suasana Kota Tua yang historis. Nongkrong bersama kerabat di sini pasti tahan berjam-jam!

4. Tugu Kunstkring Paleis

(Annisa Budiarti/d'Traveler)
(Annisa Budiarti/d’Traveler)

Restoran yang satu ini, memang memiliki konsep fine dining di bangunan tua bekas zaman Belanda. Namun jangan salah, nongkrong santai juga bisa kok.

Di dalamnya, ada Suzie Wong Lounge dengan suasana oriental yang tidak biasa. Balutan warna merah dan hitam yang mendominasi, membuat Traveler serasa berada di kafe kawasan Pecinan zaman dulu.

Soal hidangan juga bervariasi, mulai dari Chinese Food, Western sampai makanan ala Indonesia tersedia. Di lantai 2 bahkan ada galeri seni yang bisa traveler kunjungi.

5. Kedai Tjikini

(Devi/detikFood)Kedai Tjikini (Devi/detikFood)

Seperti namanya, kedai yang satu ini populer dikalangan masyarakat yang tinggal di kawasan Cikini. Inilah Kedai Tjikini.

Meskipun tempatnya bergaya Kolonial, interior didalamnya sudah cukup kekinian lho. Anak-anak muda Jakarta juga sering nongkrong di sini.

Makanannya pun bervariasi, dari hanya sekedar kopi, camilan sampai aneka makanan berat seperti nasi dan sayur lodeh juga ada.

 

Source : https://travel.detik.com/domestic-destination/d-4065583/lebaran-di-jakarta-coba-nongkrong-di-5-tempat-jadoel-ini

Kisah Teko dan Kebaikan Hati di Jantung Glodok

Published: 20 Juli 2017 (student.cnnindonesia.com)

Jakarta, CNN Indonesia — Di jantung kawasan Glodok, Jakarta, dulu pernah ada seorang China yang baik hati bernama Kapiten Gan Djie. Kebaikan hati sang Kapiten dan istrinya menjadi cerita turun temurun di kawasan itu.

Dulu sang Kapiten China ketiga ini dan keluarganya selalu menaruh delapan teko berisi air minum dan teh gratis bagi pedagang atau siapa saja yang merasa kelelahan dan ingin beristirahat.

Keberadaan teko inilah menjadi cikal bakal lahirnya area Patekoan di Glodok, yang kini menjadi bagian dari jalan Perniagaan.

Sosok Lin Che Wei mencoba menghidupkan kembali semangat kebaikan hati ini di bangunan Apotheek Chung Hwa yang berlokasi di Jalan Pintu Besar Selatan, di pintu masuk Jalan Pancoran, Glodok.

Bangunan Apotheek Chung Hwa ini sendiri persisnya beralamat di Jalan Pancoran Nomor 6. Kamu bisa menemukan sebuah meja yang di atasnya terdapat delapan teko klasik berisi air minum yang bisa kamu minum secara gratis.

Di sana tertulis “Tradisi “Patekoan” (8 Teko). Silahkan Minum! Teh untuk kebersamaan. Teh untuk masyarakat.”

Apotheek Chung Hwa sendiri sekarang sudah berubah fungsi menjadi rumah teh bernama Pantjoran Tea House.

Berdasarkan catatan yang ada, bangunan ini adalah bangunan pertama di pintu masuk Kota Tua Jakarta, yang pernah dinominasikan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menjadi Situs Warisan Dunia ke UNESCO.

Meski tak berhasil masuk daftar Situs Warisan Dunia, bangunan yang berdiri pada 1928 ini adalah saksi penting sejarah area Glodok dan Jakarta.

Bagi Batavia pada zaman dulu, Glodok adalah area yang penting, terutama dalam proses perubahan Batavia menjadi Jakarta. Pancoran Glodok adalah gerbang utama memasuki Batavia dari selatan.

Nama Glodok sendiri berasal dari bunyi air di pancuran kanal di sana, yang mengeluarkan bunyi “Grojok..grojok” dan oleh lidah orang China kemudian disebut Glodok. Pancuran itu sendiri menginspirasi nama kawasan Jalan Pancoran.

Mengenal Kapiten Baik Hati

Menurut catatan, Kapiten Gan Djie diangkat sebagai Kapiten der Chineezen pada 10 April 1663 dan menjabat sampai 1675. Dia berasal dari Ciangciu, China, yang merantau ke Gresik untuk berdagang hasil bumi.

Alkisah, saat beristirahat di sebuah, seorang perempuan Bali menolongnya dari orang jahat. Wanita itu pun diperistrinya dan kemudian diboyongnya ke Batavia.

Di Batavia dia berkenalan dengan Kapiten de Chineezen Phoa Beng Gam yang sudah lanjut usia. Atas usul sang Kapiten, Gan Djie kemudian diangkat sebagai kapitan oleh Gubernur Jenderal Batavia, Joan Maetsuycker, yang juga pernah merasakan kebaikan hati Gan Djie. (ded/ded)

 

Foto: Dok. Istimewa/Oyen Ongkodharma

Sumber Artikel: https://student.cnnindonesia.com/edukasi/20170720125439-445-229135/kisah-teko-dan-kebaikan-hati-di-jantung-glodok/

Bernostalgia Bersama Pantjoran Tea House Yang Berjaya Pada Masanya

Published: May 2017 (qubicle.id)
Saya yakin sebagian dari kita pasti belum pernah mendengar tempat yang satu ini. Mungkin juga masih jarang buat yang pernah mengunjunginya. Namanya adalah Pantjoran Tea House yang sangat terkenal pada masa dulu.

Pantjoran Tea House ini berada di daerah Glodok. Sekarang tempat ini tidak hanya sebagai tempat untuk makan dan minum saja bagi orang-orang yang datang saja, tetapi juga sebagai pengingat memori atas kejayaannya di masa lalu.

Pada masa kejayaannya, tempat ini dikenal sebagai Apotek Chung Hwa yang telah dibangun sejak 1928. Gedung ini sangat terkenal karena merupakan ini merupakan gedung pertama yang akan dikunjungi oleh para pendatang ketika mereka ke Batavia; sebelum menjadi Jakarta, dahulu namanya Batavia.

Seiring berjalannya waktu, tempat ini menjadi tidak terurus dalam waktu yang cukup lama. Untungnya ada Jakarta Old Town Revitalization Corporation (JOTRC); sebuah konsorsium swasta, didirikan sekitar tiga tahun lalu oleh beberapa orang yang merasa prihatin terhadap upaya pengembangan kawasan kota tua Jakarta yang dikesankan ‘berjalan di tempat’ dan juga Jakarta Endowment for Art and Heritage (Jeforah), yang bisa dikatakan sebagai “penyelamat” Kota Tua.

Ternyata tidak mudah untuk merevitalisasi gedung yang hanya tersisa 20 persen dari aslinya. Ide untuk mengubah sebuah apotek menjadi tempat minum kopi datang dari Gan Djie. Ia adalah seorang pemimpin dari komunitas China yang tinggal di sekitar daerah Kota Tua.

Pada saat itu ia bersama istrinya sudah sangat dikenal suka dengan membagikan teh kepada siapa pun yang berhenti untuk beristirahat di depan kantornya di Kota. Setiap hari Gan menyediakan delapan pot teh serta gelasnya di depan kantornya. Pada waktu itu penjual makanan dan minuman belum sebanyak sekarang, makanya ia menjadi terkenal.

Balik ke masa sekarang, Pantjoran Tea House telah dibuka sejak tahun lalu (2016). Karena lokasinya di daerah Pecinan, maka makanan yang dijual juga khas Peranakan. Yang kami rekomendasikan ketika berkunjung ke sini adalah Nasi Goreng khas Pantjoran, Gurame Asam Manis, dan Dimsum.

Selain makanan, minumnya adalah teh pastinya. Kamu harus mencoba berbagai teh yang tersedia di sini. Seperti misalnya mereka menjual Chinese Tea yang juga termasuk melati, smoky green, jade oolong, tie gaun;teh asal jepang seperti ocha dan genmaicha, serta English tea dan teh Indonesia.

Sumber Artikel: https://qubicle.id/story/bernostalgia-bersama-pantjoran-tea-house-yang-berjaya-pada-masanya

Dari Apotheek Chung Hwa menjadi Pantjoran Tea House

Published: 9 January 2018 (bobo.grid.id)

Ternyata, gedung ini punya cerita sejarahnya, lo.

Apotheek Chung Hwa

Sebelum menjadi tea house, gedung ini adalah sebuah apotek yang terkenal pada zaman dahulu, yaitu Apotheek Chung Hwa.Bisa dibilang, sejak dahulu, bangunan ini sudah mengundang perhatian setiap orang yang datang ke kawasan Glodok.

Kapiten Gan Djie
Ide perubahan apotek menjadi tea house ini sebenarnya berasal dari kisah kapiten Gan Djie, orang yang diminta Belanda untuk memimpin kawasan Glodok.Nah, pada masa penjajahan Belanda itu, kapiten Gan Djie dan istrinya punya kebiasaan unik.Mereka menaruh 8 teko teh di depan kantornya untuk para masyarakat yang lewat. Akhirnya, kebiasaan ini pun menjadi terkenal.

Dari cerita Kapiten Gan Djie, bangunan Apotek Chung Hwa dipugar hingga menjadi Pantjoran Tea House yang kita lihat saat ini.Sebenarnya ada sekitar 20% dari gedung dahulu yang dipertahankan sampai sekarang.Bangunan ini pun termasuk dalam proyek pemugaran kawasan Jakarta, yaitu  Jakarta Old Town Revitalization Corporation (JOTRC) dan Jakarta Endowment for Arts and Heritage (Jeforah).

Suasana Tenang dan Menu Lezat

Masuk ke Pantjoran Tea House membuat kita langsung merasa tenang. Pilihan warna interiornya yang dominan coklat dan putih membuat gedung ini terasa klasik.Di dalam gedung, juga disajikan berbagai informasi sejarah seputar teh dan kawasan pecinan Glodok. Dijamin, selain kenyang, kita juga mendapat banyak informasi baru.

Pilihan menu makanan dan minumannya pun beragam, tentu saja dominan teh.
Nah, setelah makan, ada juga es krim berbagai rasa yang bisa dinikmati sebagai penutup. Es krim ini juga memakai resep yang dipertahankan sejak dahulu.
Reporter : Putri Puspita 
Editor : Iveta Rahmalia

Pantjoran Tea House : Reviving Jakarta’s Old Town Treasures

Published: 19 January 2017 (www.wanderbites.com)

Back in 1663 when the Dutch still ruled the land and Jakarta was called Batavia, Kapitein Gan Djie and his wife used to offer tea for worn-out workers and merchants who passed in front of his office in the heart of Glodok. This simple act of kindness made tea an important part of Jakarta Old Town’s history. More than three hundred and fifty years later, Pantjoran Tea House was born.

The birth of Pantjoran Tea House is a part of the revitalization of Jakarta Old City, a joint task between Jakarta Old Town Revitalization Corp (JOTRC), the local government, and the Ministry of Education and Culture. This great effort aims to revive the historic area and make it into a distinctive attraction.

Pantjoran Tea House occupies the building that housed Jakarta’s oldest pharmacy: Apotheek Chung Hwa. The exterior of this two-story structure is kept intact, while the interior is arranged into a traditional Chinese shophouse. The big windows and the use of tegel kunci-style flooring adds to that vintage feeling, asking customers to time-travel for a while.

 

Pantjoran Tea House (Jakarta Old Town)
Who would’ve thought this used to be an apothecary.

Jakarta Interior Photographer

Despite its well-thought construction, one might say that Pantjoran Tea House relies too much on its historical values. A lot of things need more attention and work, such as limited parking space and the quality of food. There are indeed a couple of tasty dishes like Prawn with Salted Egg, but the variety of menu makes this tea house seem like just another Chinese restaurant. The intended specialty of this place, tea, also feels too generic.

Although the location and historical values are enough to invite both locals and tourists (at the time of our visit, there were two tables occupied by English-speaking tourists) for the first time, a restaurant’s survival eventually depends on food and service. At the end of the day, it is what will keep people coming back for more. In short, my eyes and minds were pampered well, but my taste buds still look for another reason to come back other than the Salted Egg Shrimp.

Restaurant Interior Photographer Jakarta

Pantjoran Tea House (Jakarta Old Town)
Our favorite dish. Salted Egg Shrimp
Pantjoran Tea House (Jakarta Old Town)
Nasi Campur ala Pantjoran

Perhaps Pantjoran Tea House could improve the quality of food and make the menu more interesting by incorporating dishes like “The Kapitein’s favorite”? After all, the establishment is still in its beginning and have room to be better. We wish Pantjoran Tea House the best of luck, hopefully they can write a beautiful story that lives up to Gan Djie’s tea legacy.

@captainruby

Pantjoran Tea House
Instagram: @pantjoran_tea
Address: Jalan Pancoran Raya No. 4-6, Glodok
Opening Hours: 7AM – 9PM

Sumber Artikel: https://www.wanderbites.com/jakarta-restaurant-review/pantjoran-tea-house/

Lokasi Pantjoran Tea House Jakarta

Home

Kedai teh ini terletak di Jalan Pancoran No. 6 Kelurahan Glodok, Kecamatan Taman Sari, Kota Jakarta Barat, Provinsi DKI Jakarta.

Sejarah Pantjoran Tea House Jakarta

Kekhasan bangunannya yang terletak di sudut jalan ini, menjadikan bangunan lawas bekas Apotek Chung Hwa menjadi salah landmark yang terdapat kawasan Glodok dan Kota Tua Jakarta. Hal ini yang menginspirasi PT JOTRC (Jakarta Old Town Revitalization Corporation) yang berkerjasama dengan Pemprov DKI Jakarta untuk memasukkan Apotek Chung Hwa sebagai salah satu bangunan yang direvitalisasi. Pemugaran bangunan bekas Apotek Chung Hwa memakan waktu sekitar 8,5 bulan, dan selesai pada 15 Desember 2015. Gedung yang awalnya memiliki luas bangunan 400 m² itu, kini hanya tersisa sekitar 218 m². Luas bangunan ini berkurang, karena terpotong proyek pelebaran jalan di kawasan Glodok.

Sekarang gedung tersebut telah utuh kembali, berdinding warna krem dan didesain dengan hiasan jendela kaca memanjang mengelilingi bagian luarnya. Bohlam-bohlam lampu bercahaya kuning temaram menggantung menghiasi ruangan. Kendati sudah purna pugar dan siap dihuni lagi, namun bangunan tua ini tidak akan dimanfaatkan kembali sebagai toko obat atau apotek lagi, melainkan difungsikan sebagai Pantjoran Tea House.

Pantjoran Tea House adalah sebuah kedai teh bernuansa Tiongkok. Interiornya pun dibuat dengan unsur Tiongkok yang kuat. Terlihat dari pemilihan ornamen kisi-kisi dan pintu bergaya Tiongkok dan lantai keramik dengan gaya serupa. Desain ini memang dipilih dalam merevitalisasi bangunan tua ini, untuk mempertahankan budaya Tiongkok yang identik dengan China Town sebagai bagian dari Kota Tua Jakarta.

Sumber Artikel: https://situsbudaya.id/sejarah-pantjoran-tea-house-jakarta/

Minum Teh Sambil Bernostalgia? Mampirlah ke Pantjoran Tea House di Glodok, Jakarta

Published: 01 April 2017 (www.femina.co.id)

FOOD REVIEW
Foto: HC, Dok. Pantjoran Tea House

Alamat: Jl. Pancoran Raya No.4-6, Glodok, Jakarta.
Telp:
 (021) 6905904.
Jam buka: 07.00 – 21.00 WIB.
Harga*: Rp10.000 – Rp150.000.
Suasana: Tenang dan nyaman dalam interior kolonial yang jarang ditemui.

*) Harga dapat berubah sewaktu-waktu. Cek sebelum bersantap.

Cerita perjalanan Apotheek Chung Hwa terlalu indah untuk tidak kembali diteruskan. Inilah apotek tertua di Jakarta yang hadir di tahun 1928 dan dikenal pula sebagai ‘pintu gerbang’ kawasan Pecinan berkat lokasi strategisnya.

Puluhan tahun tak ditinggali dan terbengkalai, nafas baru menampakkan kembali wajah cantik gedung tua lewat proyek Jakarta Old Town Revitalization Corporation (JOTRC) yang bekerja sama dengan Pemprov DKI Jakarta.

Ketua Ikatan Arsitek Indonesia (IAI), Ahmad Djuhara, memimpin renovasi dan memberikan dominasi warna putih, serta desain furnitur dan elemen ruang serba kayu yang mengisi ruang dengan apik. Di sini, kini hadir Pantjoran Tea House.

Operational ManagerRonald Dani Heriawan, menyebutkan bahwa kawasan Chung Hwa dulunya dikenal dengan nama Patekoan (sekarang Jalan Perniagaan), perpaduan dari kata Mandarin ‘pa’ (delapan) dan ‘tekoan’ (teko). Sebuah nama yang diangkat ritual Gan Jie, kapitan Tiongkok di tahun 1663 yang selalu menyediakan 8 teko teh gratis setiap pagi untuk pengunjung atau kuli miskin yang melintas.  Inilah sejarah yang membantu JORTC melanjutkan cerita Apotheek Chung Hwa di Pantjoran Tea House. Di sini, tradisi 8 teko gratis ala Gan Jie berlanjut, dengan teh yang berbeda setiap harinya.

Tak hanya Chinese tea, ada pula sencha dan genmaicha Jepang hingga teh-teh khas Inggris, seperti Earl Grey dan English Breakfast. Yang juga menarik, Fine Flowerytisane (‘teh’ bunga) premium Jawa Timur dengan rasa manis dan aroma bunga yang samar. Juga dari Indonesia, Orange Pekoe yang dulunya salah satu daun teh utama yang diekspor ke Belanda.

Koleksi dim sum-nya menjadi opsi pas untuk menemani teh. Ingin menikmati makan besar selepas duduk-duduk menikmati teh sore? “Favoritnya antara lain Gurame Asam Manis, Ayam Saus Taucho, dan Terong Ayam Ikan Asin,” sambung Ronald. Cita rasa nostalgia yang menemukan keutuhannya kala dinikmati di sebuah lokasi sarat cerita masa lalu. (f)

Helen Christianti

Sumber Artikel: https://www.femina.co.id/food-review/minum-teh-sambil-bernostalgia-mampirlah-ke-pantjoran-tea-house-di-glodok-jakarta

Made with ♥ from Pantjoran Tea House © 2019