Kisah Delapan Teko Teh yang Mengemuka Setelah Bangunan Apotek Dihidupkan Kembali

Jalan Pancoran Raya, Glodok, Jakarta Barat sudah kenamaan jadi pusat pengobatan tradisional sejak 1930-an.

Ada yang menjajakan obat di lapak tepi jalan, di kios, atau di ruko plus jasa sinse. Apotheek Chung Hwa, salah satunya.

Toko obat yang berdiri pada 1928 ini merupakan toko kedua tertua setelah Tai San Ho.

Chung Hwa terletak tepat di pangkal Jalan Pancoran Raya. Gerbang Pecinan, begitu orang mengenal area ini.

Warga Cina daratan dipersilakan bermukim di sini sejak 1635, sekitar 16 tahun setelah kota Batavia didirikan “Mur Jangkung” alias Jan Pieterszoon Coen.

Di kawasan gerbang Pecinan, budaya minum teh tumbuh subur.

Bibit tehnya dibawa dari Jepang oleh Andreas Cleyer, ahli botani dan Japanolog yang bekerja untuk VOC pada 1684.

Bibit itu ditanam di sekitar Tijgergracht, kanal di Batavia abad ke-17 yang melintang ke gerbang Pecinan.

Daun teh asli Cina berjenis Camelia sinensis itu biasa diseduh dengan air panas oleh warga Cina daratan.

Kebiasaan ini merebak ke penjuru Batavia ketika terbukti mampu mengurangi wabah disentri pada masa itu.

Gerbang Pecinan sendiri merupakan mulut kawasan Kota Tua Jakarta.

Bila masuk dari kawasan Kota Tua Jakarta dari arah selatan, gedung Apotheek Chung Hwa menjadi gedung pertama kawasan inti Kota Tua Jakarta.

Lokasi yang bagus serta nilai sejarahnya membuat bangunan gedung ini terpilih untuk direvitalisasi sebagai bagian persiapan nominasi Situs Warisan Dunia UNESCO 2016.

Pelaksananya Jakarta Old Town Revitalization Corps (JOTRC).

Chung Hwa direvitalisasi bersama 16 gedung bersejarah lain yang turut dinominasikan.

“Revitalisasi bangunan eks Apotheek Chung Hwa menjadi simbol revitalisasi Kota Tua Jakarta, dimulai dari mulut kawasannya,” tutur Lin Che Wei, Chief Executive Officer JOTRC saat itu.

Mengembalikan wajah kota tua

Gedung yang beroperasi sebagai apotek hingga 1957 ini jadi salah satu gedung pertama yang direvitalisasi.

Ukuran yang relatif kecil ketimbang gedung-gedung heritage lain jadi pertimbangan awal.

Di samping itu, bangunannya juga belum hendak roboh, tidak seperti beberapa gedung lain.

Struktur atap asli bahkan masih terlihat di bangunan ini.

Anneke Prasyanti, Project Manager JOTRC kala itu menuturkan, pilihan struktur kuda-kuda memang ngetren pada masa berdirinya bangunan apotik.

Bentuk atapnya cocok diaplikasikan di negara tropis.

Sirkulasi udara jadi bagus karena struktur atap kuda-kuda yang tinggi menjaga hawa dalam ruangan tetap sejuk.

Udara panas mengalir lewat kisi-kisi genteng merahnya.

Kendati demikian, Anneke bercerita, revitalisasi bangunan ini jadi salah satu yang tersulit.

Karena meski bangunannya sendiri tidak seberapa besar, namun bentuknya sudah berubah dari gedung aslinya dulu.

Sebelum direvitalisasi, gedung kondisinya terbengkalai.

Padahal gedung dua lantai itu masih difungsikan sebagai ruko oleh beberapa orang.

Pernah pula satu bangunan disekat-sekat menjadi lima toko.

Bagian dalam bangunan pun sudah mengalami banyak perubahan.

Area yang seharusnya jendela, ditambal batu bata untuk membuat sekat.

“Bentuknya sudah sangat aneh. Padahal kami riset, bangunan utamanya ada di hook dan lebar,” ujar Anneke.

Anneke bercerita, perubahan bentuk gedung juga disebabkan adanya pelebaran jalan.

Berdasarkan hasil riset, setidaknya sepertiga bangunan sudah hilang.

Luas gedung yang awalnya 400 m2 tinggal 218 m2 akibat pelebaran jalan.

Karena tidak diketahui bentuk aslinya, tim arsitek harus nge-plot ulang kondisi dalam bangunan.

Kolom-kolom yang ditambahkan pemilik-pemilik baru gedung membuat mereka kian sulit mereka ulang.

Dokumentasi bangunan juga tidak memadai.

“’Kayaknya bukan yang ini,’ hampir selalu begitu ungkapan para arsitek setiap habis menggambar,” tutur Anneke.

Di samping mengembalikan wajah aslinya, renovasi diupayakan menggunakan material asli sesuai dengan saat pertama kali dibangun.

Material yang dapat dipertahankan sebisanya dipakai ulang.

Kuda-kuda bangunan dan genteng yang masih utuh, salah satunya.

Sekitar 40% genteng digunakan lagi di proses perbaikan bangunan.

Kesemuanya merupakan genteng berkait dua yang asli dipakai sejak awal dibangun.

Padanan yang mirip ditemukan di Serang, Banten.

Meskipun prosesnya lebih sulit, karena penggunaan genteng dengan jenis ini sudah jarang, tim arsitek mengusahakan penggunaan material yang semirip mungkin.

Rumah teh

Berseberangan dengan pasar Glodok yang padat, keberadaan bangunan eks Apotheek Chung Hwa itu tampak kontras, meski sama-sama bernuansa pecinan.

Pantjoran Tea House, begitu nama barunya.

Dindingnya kini putih susu, dengan elemen kayu di jendela dan pintu berornamen khas Cina.

Sejak resmi dipakai kembali, Desember 2015, lantai satu difungsikan sebagai ruang minum teh dan camilan.

Sudut hook bangunan dipakai sebagai toko cenderamata yang menjual beragam dauh teh.

Di teras hook, delapan teko teh gratis tersedia bagi pejalan yang sedang haus.

Dengan ruang yang lebih luas, ruang minum teh dan makan diletakkan di lantai atas.

Bangku-bangku thonet khas kopitiam melengkapi meja-meja kecil dari kayu jati berkapasitas hingga 80 pengunjung.

Partisi-partisi kayu dengan pola geometri Cina menggantikan fungsi dinding di lantai dua.

Lattice ini juga berfungsi sebagai pembatas antar ruang, antara ruang VIP dan publik.

Di lantai ini, jendela juga dibuat besar-besar seperti awal berdiri, sehingga memberi kesan menyatu dengan pemandangan luar lalu-lalang di pinggir jalan.

Dengan nuansa interior Tionghoa yang kental, orang kerap memanfaatkan ruang-ruang rumah teh ini menjadi lokasi shooting dan photoshoot program televisi, iklan, dan produk bernuansakan Cina.

Tidak sedikit pula yang melaksanakan sanjit, lamaran tradisional Tionghoa di sini.

Pengunjung yang datang biasanya bersantai sore dengan minum teh dan camilan ragam dimsum.

Pilihan teh tersedia dari yang siap teguk sampai gongfu cha experience.

Pantjoran Tea House memang ingin merawat tradisi gongfu cha, yakni tata cara minum teh secara tradisional.

Semua teh dipetik langsung dari Cina, Taiwan, dan Indonesia, dengan pilihan jenis teh hijau sampai dong ding.

Jika memilih gongfu cha, pengunjung bisa menjajal tradisi khas Tionghoa ini berbekal kertas manual, sambil dibantu tea specialist Pantjoran Tea House.

Pengunjung bisa melihat dulu sang tea specialist menyeduh daun teh pilihannya dengan benar, baru kemudian mereka praktikkan sendiri.

Sebagai rumah bagi para penikmat teh, Pantjoran Tea House juga menjadi tempat edukasi tentang teh yang sejarahnya menjadi bagian dari kisah Pecinan di Batavia.

Beragam pengetahuan tentang Cina peranakan juga menjadi agenda tempat ini sepanjang tahun.

Pertunjukan barongsai, melukis kaligrafi Cina, nonton bareng short documenter series of chinese teatea tasting, membuat bakcang, membuat onde, menghias lampion, membuat kue bulan, dll.

Biasanya, pada hari-hari menjelang Imlek, Pantjoran akan kian ramai pengunjung yang hendak makan malam dan makan siang sekeluarga.

Tak heran, karena di samping beraneka teh, makanan yang disajikan pun otentik chinese.

Angsio fishmaw, sayur poleng rasa tiga telur, dan ayam sayur asin ang cho adalah contohnya.

Delapan teko teh

Salah satu yang menarik, di teras depan gedung, Pantjoran masih melakukan tradisi Patekoan, yaitu menyajikan delapan teko teh secara cuma-cuma untuk siapa pun yang kebetulan sedang melintas.

Pa” secara harfiah berarti delapan, sedangkan “tekoan” adalah teko.

Angka delapan secara filosofis dianggap sebagai angka keberuntungan karena bentuknya yang tak pernah putus.

Harapannya, teh dari patekoan ini akan membawa keberuntungan baik bagi yang menyajikan maupun yang meminum.

Program teh gratis di rumah teh ini terinspirasi dari kisah kebaikan Kapitein der Chineezen Gan Djie dan istrinya.

Gan Djie merupakan Kapiten Cina ketiga di Batavia (1653-1666) yang menggantikan Phoa Beng Gam.

Bagian depan kantor Kapiten warga Tionghoa di Batavia ini seringkali menjadi tempat berteduh pedagang keliling dan orang-orang yang kelelahan di jalan karena hawa panas Batavia.

Saat itu sulit sekali bagi mereka mendapatkan air untuk minum.

Melihat hal ini, istri Gan Djie—yang kemudian dipanggil Nyai Gan Djie—pun mengusulkan pada suaminya untuk menyediakan air teh.

Di depan kantor kemudian dipasang meja-meja kecil yang setiap pagi dan sore hari tersedia delapan teko teh. 

Delapan teko ini yang kemudian menjadi asal nama Patekoan, daerah yang kini berada di sekitar Jalan Perniagaan Raya, Glodok.

Kisah delapan teko dan rumah Gan Djie sendiri sebenarnya tidak persis terletak di Jalan Perniagaan kini, melainkan di Jalan Perniagaan Raya.

Lin Che Wei menuturkan, upaya untuk menggandeng pemilik rumah Gan Djie pada 2015 untuk bersama merevitalisasi bangunan cagar budaya tersebut telah dilakukan, jauh sebelum memutuskan merevitalisasi gedung Apotheek Chung Hwa.

Sayangnya, upaya ini terkendala kepemilikan bangunan bersama satu keluarga besar.

Kondisi ini juga terjadi ketika tim revitalisasi JOTRC berniat untuk merevitalisasi Tai San Ho, apotek tertua di Jakarta.

Lin menuturkan, itulah sebabnya sepotong kisah delapan teko Gan Djie kemudian dibawa ke gedung di mana Apotheek Chung Hwa berdiri kini, tepat di pintu masuk kawasan inti Kota Tua Jakarta dan Pecinan.

Penyisipan fungsi dalam gedung-gedung tua ini menjadi poin utama dari menyukseskan Kota Tua Jakarta sebagai situs warisan dunia.

Lin menuturkan, gedung yang belum direvitalisasi pada dasarnya bisa dimasukkan ke dalam nomination dossier of wold heritage sites UNESCO.

Akan tetapi, Lin menambahkan, tugas tim revitalisasi kemudian menjaga bangunan agar dapat kembali berfungsi hingga dicatat sebagai situs warisan dunia.

Dan agaknya, tugas kita pulalah kini untuk turut merawat kisah dan tradisi di sekitar Chung Hwa.

Sumber artikel : https://intisari.grid.id/read/032002348/kisah-delapan-teko-teh-yang-mengemuka-setelah-bangunan-apotek-dihidupkan-kembali?page=all

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *